Tingkat penguasaan Scrum ibarat penguasaan bermain alat musik

Menggunakan Scrum itu ibarat memainkan alat musik.

  1. Di awalnya kita bermain sesuai aturan. 
  2. Setelah kita tahu aturannya dan nada-nada yang tepat, kita mulai improvisasi sedikit. 
  3. Setelah kita dapat berimprovisasi, kita mulai bermain dari hati. 

Dalam Scrum pada awalnya kita mengikuti aturan-aturan yang telah disarankan. Di fase ini ada kalanya kita memainkan nada yang salah, namun agar menjadi pemain musik yang handal dan menghasilkan musik yang indah kita akan terus memainkan sesuai aturan.

Setelah kita tahu aturan mainnya, kita mulai memasukkan teknik-teknik lain ataupun penggunaan teknologi yang dapat membuat kita semakin Agile.

Setelah kita sudah sangat Agile lewat teknik-teknik yang telah kita tambahkan, barulah kita bermain dari hati tanpa menghilangkan business value, agility dan team morale. Di titik ini sudah hampir dapat dipastikan Scrum yang dijalankan oleh tim ataupun organisasi sudah mencapai tingkat maturity yang tinggi. Dan bukan tidak mungkin tim atau organisasi sudah memiliki standard Scrum-nya sendiri dan memiliki komite Scrum sendiri agar cara penggunaan Scrum dalam organisasi dapat di-share kepada setiap anggota tim Scrum dalam organisasi.

Siapakah Scrum Master itu?

Banyak pihak yang mengira Scrum Master adalah seorang manajer proyek dalam tim Scrum sehingga banyak pihak yang menunjuk seseorang yang berasal dari manajemen proyek tradisional untuk menjadi seorang Scrum Master. Namun seorang manajer proyek yang belum memahami peran dari Scrum Master tidak akan bisa efektif menjalani tugasnya. Scrum Master bukanlah seorang manajer oleh karena itu menunjuk seorang manajer proyek untuk memegang peran Scrum Master belum tentu menjadi pilihan yang tepat. Scrum Master adalah seorang pemimpin yang melayani dalam tim Scrum (servant leader). Scrum Master tidak mengatur ataupun memerintah layaknya seorang manajer proyek melainkan memimpin dengan cara melayani Tim Pengembang. Scrum Master melayani Tim Pengembang agar mereka jadi lebih produktif dalam mengembangkan produk yang diminta oleh Pemilik Produk.

Menggunakan Scrum ibarat mengendarai mobil transmisi manual

Awalnya Scrum memang tidak masuk akal. Banyak hal yang tidak sesuai dengan apa yang telah kita ketahui selama ini. Hal tersebut termasuk lumrah dan dapat dimaklumi karena sebagian besar dari kita telah terbiasa dengan metode manajemen tradisional. Namun apabila anda ingin tetap mendapatkan hasil maksimal dari Scrum, jangan pantang menyerah dan maju terus. Kalau kami boleh mengambil analogi, menggunakan Scrum ibarat mengendarai mobil dengan transmisi manual. Pada awalnya otot-otot kita belum terbiasa, bahkan tanpa disengaja tidak jarang mesin mobil sering mati karena kita belum mahir untuk pindah gigi dengan menggunakan kopling. Tapi seiring dengan waktu, mengendarai mobil sudah menjadi hal yang biasa bagi kita. Demikian halnya dengan menggunakan Scrum. Pada awalnya mungkin kita akan sering menemukan hambatan yang membuat kita putus asa dan ingin kembali ke cara yang lama. Namun sama halnya dengan mengendarai mobil, tentunya kita akan terus belajar sampai kita terbiasa. Semakin kita terbiasa dengan Scrum, semakin melesat kita melaju sama dengan halnya mengendarai mobil. Bahkan tidak jarang kita ingin melakukan manuver-manuver yang atraktif karena kita sudah sangat terbiasa.

Self-organizing and self-managing team in Scrum

Pada mulanya pihak-pihak yang memiliki latar belakang manajemen proyek tradisional akan skeptis mengenai memberikan otoritas penuh kepada Tim Pengembang untuk mengatur dirinya sendiri dalam membuat produk yang diminta oleh Pemilik Produk. Hal ini tentunya didasari oleh ketidakpercayaan beberapa pihak akan anggota timnya apabila mereka dilepas sendiri. Namun kalau kita boleh mengambil analogi orang tua yang membesarkan anak-anaknya, walaupun saran-saran dari pihak eksternal seperti tetangga ataupun teman kita dengarkan namun sebagai orang tua mereka tetap pihak yang memiliki otoritas dalam mengasuh dan membesarkan anak-anaknya karena hanya mereka yang paling tahu apa yang terbaik untuk anak-anaknya. Hal ini tentu saja sama dengan Tim Pengembang dalam Scrum, pihak eksternal dapat memberikan masukan kepada mereka namun mereka yang memiliki otoritas penuh terhadap produk yang mereka kembangkan karena mereka adalah pihak yang paling mengerti bagaimana membuat produk yang diminta oleh Pemilik Produk.

Sprint 1 goal

Goal dalam Sprint pertama kami untuk membuat buku ini adalah menyelesaikan daftar isi dari buku dan menyerahkan naskah draft ke salah satu publisher buku di Indonesia. Untuk itu kami butuh bantuan rekan-rekan dari komunitas Scrum Indonesia untuk menyampaikan aspirasinya mengenai konten dalam buku ini.

Selamat Datang

Karena semakin maraknya pengguna Scrum di Indonesia, kami para praktisi Scrum dan Scrum Master di Indonesia ingin merangkum pengalaman-pengalaman kami dalam menggunakan Scrum di dalam lingkungan organisasi di Indonesia beserta pendekatan-pendekatan yang kami gunakan dalam memecahkan permasalahan yang kami hadapi dalam proyek-proyek kami dalam bentuk sebuah buku. Kami akan menggunakan contoh kasus nyata karena bagi kami di dalam Scrum tidak ada yang mustahil untuk diselesaikan selama pengguna Scrum telah memahami prinsip dan paradigma Scrum itu sendiri. Buku ini sendiri akan kami namakan "Manajemen Radikal dengan Scrum" karena kami telah melihat sendiri bagaimana banyak organisasi di Indonesia yang telah menggunakan dan sukses dengan Scrum di luar organisasi Teknologi Informasi selama mereka dapat menerima pola pikir yang jauh berbeda dengan manajemen tradisional. Penulisan buku ini pun rencananya akan kami buat dengan cara kerja Scrum.

Situs ini kami buatkan guna dapat menjadi media bagi para calon pembaca mengenai konten apa yang mereka inginkan di dalam buku yang sedang kami garap dan media untuk dapat mengikuti perkembangan penulisan buku kami. Saran dan masukan mengenai konten apa saja yang harus ada di dalam bukunya dapat diisikan di halaman Daftar Isi. Semoga dengan adanya situs ini dapat menjadi penyemangat kami untuk dapat men-deliver bukunya ke tangan para pembaca. 

Sukses untuk kita semua.